Lelaki itu yang kemudian melukis langkahnya menyebrangi mimpi.
Hingga ia berada dalam sebuah kejujuran yang luar biasa,
melampaui sejuta rangkum puisi, nada dan angin.
Dalam lelahnya,
akhirnya ia mengetahui apa yang ia inginkan dalam hidupnya.
Kemudian terlelap, bahkan dalam tidurnya ia tampak tersenyum.
Aku ingin menjadi jingga di bahunya.
Meretas setiap peluh yang menetesi setiap langkahnya.
Mengusap dan berbisik tentang sebuah rindu yang terbuhul begitu lama.
Dalam batas ketidak berdayaanku
aku melihatnya seperti sekelebat bayangan melintas,
yang mampu kunikmati sebatas hembusan bayu.
Aku mohon,
Jangan pernah lepaskan aku dari hasratmu,
meski aku harus rela berada dalam baris akhir di setiap gurat mimpimu.
Tanganku tak pernah sampai meraihmu,
meski kau tak pernah berhenti mengulurkan tanganmu.
Aku tak tahu jenis kemalangan apa yang menimpaku,
hingga aku terlunta tanpa sarana menghubungimu.
Mungkin matahari lupa mengingatkan tentang pagi yang mulai bersolek.
Atau perubahan jadwal perputaran siang menjadi malam.
Namun aku ingin tetap berada dalam detik ribuan
bahkan milyaran waktu bersamamu.
Meski sebatas elusan embun, aku mencintai lelaki itu.
Aku melukis bulu matanya setiap senja,
menjadi sebuah lengkung senyum.
Kemudian ku usap lembut.
Tersapu anak angin membelainya.
Aku ingin menjadi malam dilangit-langit kamarnya.
Mendengar keluhnya saat asanya mengabur
atau ia berada dalam kelelahan melukis dalam studio.
Menemani dalam setiap mimpinya tentang sebuah kubah cinta.
Meski untuk itu aku harus menahan ribuan panah di tanganku.
Aku mohon,
jangan tinggalkan harapan tuk kemudian ditanggalkan,
kemudian berucap : “Carilah yang lain dariku, masih banyak yang lebih baik dariku.”
Aku akan hancur.
Aku hanya ingin membawakan segelas air putih dengan obat flu ditanganku. Tolong, jangan katakan ini terlalu tinggi
atau ini hanyalah sebuah harapan imajiner.
Namun aku percaya,
di dunia yang serba selluler ini,
aku berada dalam kelegaan yang luar biasa,
melebihi satu titik kulminasi berkumpulnya awan, hujan dan bintang.
Rasakan perasaanku yang bergerak bersama alam untuk menyapamu.
Bergerak seiring waktu berlalu.
For Someone who always I miss him.
Hingga ia berada dalam sebuah kejujuran yang luar biasa,
melampaui sejuta rangkum puisi, nada dan angin.
Dalam lelahnya,
akhirnya ia mengetahui apa yang ia inginkan dalam hidupnya.
Kemudian terlelap, bahkan dalam tidurnya ia tampak tersenyum.
Aku ingin menjadi jingga di bahunya.
Meretas setiap peluh yang menetesi setiap langkahnya.
Mengusap dan berbisik tentang sebuah rindu yang terbuhul begitu lama.
Dalam batas ketidak berdayaanku
aku melihatnya seperti sekelebat bayangan melintas,
yang mampu kunikmati sebatas hembusan bayu.
Aku mohon,
Jangan pernah lepaskan aku dari hasratmu,
meski aku harus rela berada dalam baris akhir di setiap gurat mimpimu.
Tanganku tak pernah sampai meraihmu,
meski kau tak pernah berhenti mengulurkan tanganmu.
Aku tak tahu jenis kemalangan apa yang menimpaku,
hingga aku terlunta tanpa sarana menghubungimu.
Mungkin matahari lupa mengingatkan tentang pagi yang mulai bersolek.
Atau perubahan jadwal perputaran siang menjadi malam.
Namun aku ingin tetap berada dalam detik ribuan
bahkan milyaran waktu bersamamu.
Meski sebatas elusan embun, aku mencintai lelaki itu.
Aku melukis bulu matanya setiap senja,
menjadi sebuah lengkung senyum.
Kemudian ku usap lembut.
Tersapu anak angin membelainya.
Aku ingin menjadi malam dilangit-langit kamarnya.
Mendengar keluhnya saat asanya mengabur
atau ia berada dalam kelelahan melukis dalam studio.
Menemani dalam setiap mimpinya tentang sebuah kubah cinta.
Meski untuk itu aku harus menahan ribuan panah di tanganku.
Aku mohon,
jangan tinggalkan harapan tuk kemudian ditanggalkan,
kemudian berucap : “Carilah yang lain dariku, masih banyak yang lebih baik dariku.”
Aku akan hancur.
Aku hanya ingin membawakan segelas air putih dengan obat flu ditanganku. Tolong, jangan katakan ini terlalu tinggi
atau ini hanyalah sebuah harapan imajiner.
Namun aku percaya,
di dunia yang serba selluler ini,
aku berada dalam kelegaan yang luar biasa,
melebihi satu titik kulminasi berkumpulnya awan, hujan dan bintang.
Rasakan perasaanku yang bergerak bersama alam untuk menyapamu.
Bergerak seiring waktu berlalu.
For Someone who always I miss him.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar